Ada Apo Dengan Lotek Kalipah Apo?

 

Masih gelap di balik jendela mobil. Seperti biasa, aku berangkat subuh-subuh, dijemput GrabCar ke rumah untuk menuju Bandung. 

Tas duffel yang biasa kubawa, kuletakkan di sampingku di bangku tengah. Isinya pakaian seadanya dan laptop sisa setengah daya. 

“Ikut peta ya pak?” tanya pengemudinya.

“Ya, Pak. Ikut peta saja.” 

Enak sekarang ke luar kota. Nggak perlu nyetir. Sewa GrabCar sampai tujuan, selanjutnya bisa pesan GrabCar biasa. Kupejamkan lagi mata, karena belum ada pemandangan terlihat. Lumayan, barang sebentar.

Bolak balik Bandung saat subuh, kini selalu kulakukan, sejak Bandung mulai ramai. Sebelumnya, aku lebih suka berangkat petang. Melintasi jalur luar kota yang tenang, sambil dinaungi langit senja yang teduh di mata.

Tetapi tak mengapa. Berangkat subuh membuat hariku lebih panjang, karena sampainya lebih awal.

 

Selepas menaruh tas di penginapan, sarapan langsung terlintas. 

Ada satu tempat akan kutuju, yang searah dengan resolusiku tahun ini untuk menambah porsi salad ke dalam menu. Untungnya sayur mudah ditemukan di Bandung. Malah pilihan warungnya banyak.

Salah satu favoritku sepanjang masa, adalah lotek, kulinari asal Jawa Barat yang mudah ditemukan di seluruh wilayah Jawa Barat. Buat penyuka salad, pasti cocok sama isinya.

Sepintas lotek hampir serupa gado-gado. Isinya rebusan sayuran segar yang disiram dressing sambal campur bumbu kacang.

Lotek Kalipah Apo 42 sudah dijual dari tahun 1953. Awalnya dari racikan ibu rumahan yang mengulek bumbu dengan tangan sendiri, pakai cobek raksasa untuk kualitas rasa.

Walau sudah turun ke generasi berikutnya, tempatnya nggak banyak berubah. Masih antre pembeli. Rumah bangunan kolonialnya masih kelihatan sama dari luar. Sementara di dalamnya sudah diperluas dan lebih terang dengan lantai dan dindingnya dipasang keramik putih.

Masih nggak punya tempat parkir. Jadi yang datang dengan kendaraan harus berjejer di tepi jalan. 

Ibu aku sih pelanggan lama. Jadi sudah tahu triknya nggak kehabisan lotek. Triknya, sebaiknya datang sebelum tempatnya buka, atau sebelum jam makan siang. Ibu biasanya ke mari untuk beli lotek dan candilnya. 

 

Rasanya sudah lebih dari setengah abad, Lotek Kalipah Apo 42 memanjakan lidah. Selalu bikin kangen ingin mampir lagi, karena bertambah terus alasannya untuk datang lagi. Sekarang ada asinan sayuran, asinan buah, rujak buah, dan rujak banci, aneka bubur, dan aneka lauk.

Oiya. Kalau dulu pembeli bisa langsung mantengin lotek diracik dan bumbu diulek. Kini rumah makannya sudah ditata seperti resto cepat saji. Pembeli membawa nampan, memesan kepada pelayan, lalu membayarnya di kasir. Kemudian pesanan akan diantar ke meja.

Seporsi lotek aku pesan. Disajikan dalam piring putih. Hidangannya nampak seperti gundukan sayur berselimut bumbu kacang yang pekat plus kerupuk udang.

Alamak… Aroma gurih legit kacangnya menggoda indera. Sayuran kol, tauge, kacang panjang, bayam, kangkung, dan nangka muda, juga tempe dan lontongnya, berbaur akur dalam sebundar piring. 

Bumbunya terasa manis dan gurih, kacangnya bersensasi kencur yang memancing selera.

Tekstur bumbu kacangnya sangat halus seperti saus kental, nyaris tanpa butiran kasar kacang. Bahkan tak terlacak butiran kacang yang gosong. Ini karena sejak dulu kacang tanahnya dipilih yang benar-benar bagus. Dikunyah bersama kerupuk yang renyah, loteknya jadi semakin sedap!

 

Kalap, kupesan lagi rujak banci yang memadukan rujak buah dan asinan sayur. Dengan cekatan, si pelayan mengambil potongan nanas, pepaya muda, jambu air, bengkoang, kedondong, mentimun, ubi kuning, dan mangga muda, menaruhnya di piring bersama tambahan irisan kol dan tauge. 

Cuka yang encer dituangkan ke atasnya, disusul dengan gula merah yang kental. Taburan kacang tanah yang halus tergerus, menutup rangkaian proses pembuatannya.

Sesaat semuanya merata dalam mulut, terasa buah dan sayurnya yang renyah dan dingin! Bercampur sausnya yang memadukan manis dan asam, jadi semakin kaya rasanya, membuat lidah gemas dan puas.

Kalau ada yang suka bubur, bubur manisnya juga jempolan. Belinya bisa satu jenis saja atau mencampur maksimal lima macam. Ada kolak pisang, candil, bubur sagu rangi, bubur jali, bubur lemu, bubur pacar cina, bubur caca, bubur kacang hijau, dan bubur ketan hitam. Semua dituangi santan.

Kalau tak ingat perut kenyang, sederet lauk yang terpajang itu mungkin kupesan. Ada ayam goreng terbalut bumbu hangat mengepul, semur jengkol, oseng tempe, bakmi goreng, kering tempe, empal, oseng pare. Lauknya bisa dipesan terpisah atau langsung dipesan dengan nasi hangat. Abang GrabFood sesekali nampak seliweran mengambil pesanan. Semoga yang order tak lupa memesan sambal dan beragam kerupuknya sebagai pelengkap yang asyik.

 

Restonya nggak besar, rasanya luar biasa. Tempatnya bersih dan dekat pusat kota. Pantas kan kalau selalu penuh dan ramai mejanya. Mampir lah!

 

ALAMAT Jalan Kalipah Apo No. 42 Bandung, dan Jalan Batang Hari No. 21 Jakarta, atau pesan di GrabFood

HARGA Kira-kira Rp22.000 per porsi

DETAIL Buka hari Rabu-Senin dari pukul 9 pagi sampai 16.30 sore

MENU REKOMENDASI Lotek, Asinan, Rujak, Bubur