{"id":82508,"date":"2020-04-23T13:15:56","date_gmt":"2020-04-23T05:15:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.grab.com\/id\/?p=82508"},"modified":"2020-05-08T13:56:36","modified_gmt":"2020-05-08T05:56:36","slug":"tongseng-ayam-geprek-bu-made-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.grab.com\/id\/blog\/pulse-of-indonesia\/tongseng-ayam-geprek-bu-made-yogyakarta\/","title":{"rendered":"Tongseng Ayam Geprek Bu Made Yogyakarta"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Waktu terasa lama sekali jalannya kalau di rumah aja. Memandangi foto-foto lama di akun media sosial menjadi selingan yang lumayan mengisi jeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ada satu foto waktu bersama teman-teman di Yogyakarta. Mengingatkanku pada perjalanan kulinari dan seribu canda tawa yang tiada hentinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketika itu tenda biru di Jalan Wulung jadi tempat mangkal. Entah apa aja sudah kami bicarakan. Bisa habis waktu di sana, sambil memasukkan terus makanan tengahnya ke dalam mulut. Oh, momen itu membuat rindu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Jalan Wulung, sederetan warung menjajakan ayam geprek. Kami biasanya ada di warung yang tendanya biru. Beberapa kali kami menghabiskan waktu di sana, karena bukanya dari pagi sampai malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di tenda biru, ayam gepreknya mantap, buatan Bu Made. T<\/span><span style=\"font-weight: 400\">empat yang cukup luas terisi sejumlah kursi dan meja. Pelayannya cekatan dan ramah melayani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Warung ini populer dengan nama Ayam Geprek Bu Made. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Beberapa orang juga menyebutnya Ayam Geprek Tenda Biru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Makanan utamanya ayam geprek tentunya. Nasi dan sayur pelengkapnya bisa kita mengambil sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sayurnya ada pilihan mulai dari tumis kacang panjang, tumis sawi putih, tumis kangkung<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Kita juga biasanya nambah menu sampingan buat makan tengah. Terong goreng tepung, tahu polos dan tempe tahu goreng tepung. Siapa yang mau tinggal ambil. Sambil ngobrol nggak terasa kok, makanan cepat habis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-82509 size-full\" src=\"https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132103\/360X330-13.jpg\" alt=\"\" width=\"360\" height=\"330\" srcset=\"https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132103\/360X330-13.jpg 360w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132103\/360X330-13-250x229.jpg 250w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132103\/360X330-13-120x110.jpg 120w\" sizes=\"(max-width: 360px) 100vw, 360px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di tenda biru, cabainya bebas nambah, seberapa bisa nentuin sendiri. Dan yang membedakan dari warung lainnya, adalah kuah tongsengnya!\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Ayam geprek berkuah belum pernah kutemui di tempat lain. Kuah tongsengnya menambah sensasi pada ayam geprek yang sudah enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Inovasi ini terbilang nggak biasa. Fusion yang sudah terdengar mungkin ayam geprek campur lelehan keju atau ulekan rempah. Kuah tongseng pun, biasanya dimasak dengan daging kambing atau daging sapi. Nah, kalau ini dipasangkan dengan ayam geprek. Dan resep ini orisinil hasil mengolah sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kalau bukan karena diajak teman yang memang warga lokal Yogyakarta, mungkin kita nggak menemukan warung tenda biru ini. Lokasinya lumayan terpencil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di warung ini, sekalian boleh uji level kepedasan. Sebanyak-banyaknya nambah cabai, palingan dikenai dua sampai lima ribu. Cocok buat yang berlidah panas. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Aku seringnya ambil cabai 5. Level kepedasan yang yang nggak ngalahin kenikmatan ayamnya. Letakkan cah sawi lalu tuangkan kuah tongseng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ooh la la.. kulit garingnya renyah di mulut dan daging di dalamnya terasa sangat lembut.\u00a0\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Kuah tongsengnya disajikan dalam piring terpisah. Rasanya manis ciri khas tongseng, dengan potongan kol, penampakannya seperti tongseng sungguhan. Padahal dari ayam. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Aku masih mengingatnya, saat kuah tongseng disendokkan bersama dengan ayam geprek dan lidahku bak menari kegirangan. Rasanya tak terlupakan. Dan pengalaman unik ini cuma adanya di Yogayakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\"> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-82510 size-full\" src=\"https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132140\/360X330-5.jpg\" alt=\"\" width=\"360\" height=\"330\" srcset=\"https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132140\/360X330-5.jpg 360w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132140\/360X330-5-250x229.jpg 250w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/05\/08132140\/360X330-5-120x110.jpg 120w\" sizes=\"(max-width: 360px) 100vw, 360px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kalau makannya di jam makan siang, siap-siap aja mengantre tempat duduk. Tenda biru selalu ramai di jam makan siang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karena itu untuk menghindari kerumunan, kita kadang pesan lewat GrabFood dan makannya ngeriung di bale-bale rumah kawanku. Kalau datang langsung, dulu seringnya kita baru datang palingan di jam dua.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menyimak proses Ayam Geprek Bu Made dibuat, juga menyenangkan. Aku ingat kali pertama diajak, sesampainya di sana, aku langsung nyamperi ibu penjual yang melempar senyum ramah<\/span><span style=\"font-weight: 400\">,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cBu, pesan ayam geprek sama kuah tongsengnya ya.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">&#8220;Oh boleh ambil sendiri saja mas, ayam sama cabenya, nanti tinggal digeprek sama ibu.&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jadi kukira-kira sendiri mengambil ayam dan cabainya, buat diolah ibunya. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Sepertinya mudah tapi percayalah tidak semudah itu membuatnya. Sempat kucoba jurusnya di rumah, tapi mendekati rasanya pun, engga tuh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Runutannya sih sederhana, sesudah ayam matang dan masih panas, langsung digeprek dengan ulekan sambel yang halus. Segenap aromanya akan langsung keluar dan memenuhi jalur pernapasan. Entah ayamnya sudah dimarinasi dulu semalaman, itu kurang tahu. Tapi dari aromanya, sangat menggiurkan sekali.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ayam Geprek Bu Made, adalah masakan rumahan tanpa kerumitan bumbu, tapi legitnya menyerupai kualitas restoran.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Ah&#8230; rindunya suasana Yogyakarta melihat foto lama makan di Ayam Geprek Bu Made di tenda biru. Ketika situasi memungkinkan nanti, kita pasti bersua, makan di tempat yang sama lagi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">ALAMAT Jalan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Wulung 26, Papringan, Yogyakarta, <\/span><span style=\"font-weight: 400\">atau pesan di GrabFood<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">HARGA Kira-kira Rp15.000 per porsi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">DETAIL Buka jam 08.00 &#8211; 20.00<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">MENU REKOMENDASI Ayam Geprek Kuah Tongseng<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Inovasi resep ayam geprek berkuah tongseng, tak ditemui di kota lain dan membuat rindu untuk kembali ke Yogyakarta","protected":false},"author":781,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[356],"tags":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82508"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/781"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82508"}],"version-history":[{"count":22,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82508\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82514,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82508\/revisions\/82514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82508"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82508"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82508"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}