{"id":76867,"date":"2020-01-06T17:44:06","date_gmt":"2020-01-06T09:44:06","guid":{"rendered":"https:\/\/www.grab.com\/id\/?p=76867"},"modified":"2020-01-06T17:46:08","modified_gmt":"2020-01-06T09:46:08","slug":"selaraskan-passion-dan-ketekunan-kunci-sukses-manna-healthy-bakery","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.grab.com\/id\/blog\/selaraskan-passion-dan-ketekunan-kunci-sukses-manna-healthy-bakery\/","title":{"rendered":"Selaraskan Passion dan Ketekunan, Kunci Sukses Manna Healthy Bakery"},"content":{"rendered":"<p><b>Bandung, Januari 2020<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> \u2013 Tak ada yang mudah dalam membangun bisnis jika tidak dibarengi dengan kesabaran dan ketekunan. Tak jarang, belum genap setahun, usaha sudah tinggal cerita. Jika Jenny, sang perintis bisnis roti \u201cManna Healthy Bakery\u201d, hanya mengandalkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">passion-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">nya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">mungkin bisnisnya akan bernasib sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jenny mengaku tidak memiliki latar belakang atau pengalaman berbisnis. Awal mula dirinya terjun ke bidang ini juga sangat tidak mulus. Jenny mengisahkan, setelah menikah tiga tahun lalu, dirinya langsung menjadi ibu rumah tangga. Namun, ia ingin tetap produktif dengan mencoba melamar pekerjaan, tapi masih kurang beruntung. Jenny juga sempat berbisnis baju dan buah-buahan secara online, tapi sayangnya juga tidak berjalan mulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jenny mencari cara agar tetap produktif sebagai ibu rumah tangga, akhirnya ia memutuskan membuat roti dan kue, yang menjadi hobinya juga. Jenny yang gemar berolahraga, lantas membawa makanan buatannya ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">gym <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">tempat ia biasa berolahraga. Roti dan kue buatannya dia bagikan kepada teman-temannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cAwalnya cuma sekadar bagi-bagi. Ternyata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bakery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">-nya banyak yang suka. Beberapa waktu kemudian, teman-teman saya mulai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mesen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, dan suka memaksa untuk di buatkan. Bahkan ada yang bilang ngidam banget. Akhirnya iseng-iseng deh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">dibikinin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Dari sana saya buat lagi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bakery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">cake<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang saya buat, saya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">upload<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> di Instagram. Eh responnya banyak banget. Saya sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">enggak <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">tidur tiga hari,\u201d ujarnya sambil tertawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Roti dan kue buatan Jenny berbeda dari produk serupa. Jenny membuat roti dan kue dengan kualitas premium dan mementingkan unsur kesehatan bagi para penikmatnya. Bahan-bahan adonan roti dan kuenya rendah gula dan tidak menggunakan pengawet. Sangat bermanfaat bagi para pembeli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Melihat adanya potensi bisnis ini, Jenny akhirnya fokus memproduksi roti untuk dijual sejak akhir 2018. Namun, di lima bulan awal berbisnis, Jenny mengaku banyak sekali dinamika yang terjadi. Dia hampir menyerah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-76869 size-large\" src=\"https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/01\/06174218\/GrabExpress-Bandung-1-700x340.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"340\" srcset=\"https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/01\/06174218\/GrabExpress-Bandung-1-700x340.jpg 700w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/01\/06174218\/GrabExpress-Bandung-1-250x122.jpg 250w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/01\/06174218\/GrabExpress-Bandung-1-768x374.jpg 768w, https:\/\/assets.grab.com\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/2020\/01\/06174218\/GrabExpress-Bandung-1-120x58.jpg 120w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSelama lima bulan awal, saya buat segala sesuatunya sendiri. Saya jadi admin, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">packing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, bikin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bakery <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> cake-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">nya, pengiriman sama saya juga, semuanya sendiri. Jadi sempat ingin berhenti juga karena capek, tapi saya coba bertahan. Ternyata membuat usaha <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bakery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tidak gampang. Awalnya yang saya tahu, bikin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bakery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> itu cuma lewat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">oven<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mixer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, ternyata semakin ke sini semakin banyak yang harus dibeli. Apalagi pakai uang sendiri,\u201d kisah perempuan 25 tahun itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tak hanya itu, di masa-masa itu, dia mengaku banyak menerima masukan dari pelanggan. \u201cAda pelanggan yang pertama pesan bilangnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018wah enak\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Kemudian pesan lagi, responnnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018kok gede banget\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Yang ketiga, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018kok topingnya banyak banget\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Terus pas pesan empat kali, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018kok topingnya dikit banget\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Tapi semua itu terus kami terima. Akhirnya setelah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">repeat order <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">kesekian kalinya, dia tidak komplain lagi. Saya pikir dia juga merasa dihargai dan dilibatkan dalam pembuatan roti ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain itu, karena Manna Healthy Bakery saat ini masih usaha rumahan, produksi sering terganggu dengan listrik yang mati, kurangnya air, dan sebagainya. \u201cBanyak printilan yang tidak pernah saya pikirkan. Karena memang awalnya saya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">enggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">basic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> di sini (bisnis). Sambil menjalani bisnis ini, saya banyak belajar, termasuk menyelesaikan permasalahannya satu per satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu masalah yang dihadapi adalah pengiriman roti dan kuenya kepada para pelanggan. Dulu, Jenny sempat memiliki kurir pribadi. Namun, karena pesanannya banyak dan pengirimannya tidak hanya ke satu tempat, akhirnya sejumlah pelanggan komplain karena roti yang dikirim sangat telat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cKarena kejadian itu, kami memutuskan menggunakan GrabExpress untuk menjaga kepuasan pelanggan. S<\/span><span style=\"font-weight: 400\">ejauh ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bakery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dikirim aman. Cepat juga nyampenya,<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u201d tuturnya. Fitur favorit Jenny adalah <\/span><b>Multidestinasi<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, dimana dia bisa mengirim hingga 5 alamat berbeda dalam satu pemesanan. \u201cJadi saya bisa fokus ke bisnis dan tidak repot lagi tentang pengiriman. Apalagi, ada fitur <\/span><b>Pelacakan Langsung dan Bukti Pengiriman <\/b><span style=\"font-weight: 400\">yang membuat kita tahu kondisi barang saat diambil dan diterima pelanggan,\u201d tambah Jenny.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jenny pun mengatakan kiat-kiat agar usahanya terus bertahan. \u201cPertama, kita awalnya kan usaha kecil-kecilan. Apalagi lima bulan pertama, kalau mau produk laku, kita harus siap rugi. Tapi, saat-saat itu justru orang-orang sedang mengenali produk kita. Kedua, kita harus berani bikin menu baru. Balik lagi, bikin menu baru kan butuh biaya. Nah, di sana kesabaran benar-benar diuji,\u201d ujarnya sambil tertawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tak ayal, setelah berjalan setahun lebih, \u2018Manna\u2019 yang memiliki arti \u2018roti dari surga\u2019 telah memiliki 65 varian menu. Seluruh menu roti bergaya Eropa ini merupakan hasil riset dan produksi asli dari tangan Jenny.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain itu, kata Jenny, seluruh bahan bakunya merupakan bahan terbaik. \u201cKami sebisa mungkin menggunakan bahan premium. Saya selalu pakai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">grade<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> A. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Enggak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> peduli cuma untung 5% atau berapapun, yang penting mutu produk saya baik. Karena kalau sudah tahu rasa, orang pasti sudah bisa bedain mana yang baik, sehat, dan enak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kini, dia dibantu 7 pegawai untuk memajukan bisnisnya. Dalam sehari, Manna Healthy Bakery bisa memproduksi lebih dari 100 roti dan 20 kue. Produknya pun sudah bisa dinikmati di Jakarta dan Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Rencananya, pada Februari 2020, Jenny akan membuka toko rotinya di Bandung. Dia pun berharap ke depannya semoga pelanggannya semakin senang dan loyal, serta berharap dirinya terus menciptakan kreasi-kreasi yang disukai banyak orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSekarang setelah setahun, saya sudah tahu pola berbisnis secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Nanti ketika buka toko, saya akan belajar lagi (berbisnis melalui toko <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">offline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) dari awal. Lucu sih, seru,\u201d pungkasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jenny adalah satu dari 5 juta wirausahawan mikro yang mampu mengembangkan usahanya setelah tergabung dalam platform Grab di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics di tahun 2018, mitra\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">merchant<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0yang bergabung dengan GrabFood rata-rata melihat peningkatan penjualan sebesar 25% dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp11 juta\/bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Khusus di kota Bandung, data menunjukkan Grab berkontribusi sebesar Rp 10.1 triliun pada tahun 2018. Kontribusi terbesar dihasilkan oleh GrabBike dengan nilai Rp 4,59 triliun, yang selanjutnya disusul oleh GrabFood dengan nilai kontribusi sebesar Rp 3,76 triliun. GrabBike dan GrabCar juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja di Kota Bandung. Sebelum bermitra dengan Grab, 38% mitra GrabBike, dan 39% mitra GrabCar tidak memiliki sumber penghasilan sama sekali.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Bandung, Januari 2020 \u2013 Tak ada yang mudah dalam membangun bisnis jika tidak dibarengi dengan kesabaran dan ketekunan. Tak jarang, belum genap setahun, usaha sudah tinggal cerita. Jika Jenny, sang perintis bisnis roti \u201cManna Healthy Bakery\u201d, hanya mengandalkan passion-nya, mungkin bisnisnya akan bernasib sama. Jenny mengaku tidak memiliki latar belakang atau pengalaman berbisnis. Awal mula [&hellip;]","protected":false},"author":643,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[23,280],"tags":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76867"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/643"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=76867"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76867\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":76871,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/76867\/revisions\/76871"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=76867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=76867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=76867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}