{"id":62495,"date":"2019-03-25T10:26:09","date_gmt":"2019-03-25T02:26:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.grab.com\/id\/?p=62495"},"modified":"2019-04-02T10:27:57","modified_gmt":"2019-04-02T02:27:57","slug":"cerita-inspiratif-darno-gratiskan-tarif-perjalanan-kepada-penumpang-setiap-hari-jumat-sebagai-wujud-bakti-kepada-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/blog\/grab-community\/cerita-inspiratif-darno-gratiskan-tarif-perjalanan-kepada-penumpang-setiap-hari-jumat-sebagai-wujud-bakti-kepada-orang-tua\/","title":{"rendered":"Cerita Inspiratif Darno: Gratiskan Tarif Perjalanan kepada Penumpang  setiap Hari Jumat Sebagai Wujud Bakti Kepada Orang Tua"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Darno (43), mitra pengemudi GrabBike asal Palangkaraya, menjadikan pekerjaannya sebagai wujud bakti kepada orang tua. Kisah perjalanan Darno hingga dapat tinggal di Palangkaraya bermula saat ia merantau dari Banyumas ke Sampit, Kalimantan Tengah pada Februari 2007, sebelum pindah ke Palangkaraya satu tahun kemudian. Darno dulunya memiliki dua pekerjaan sebagai tukang bangunan di pagi hari, \u00a0dan menjadi penjaga toko bangunan di malam hari, sebelum akhirnya memutuskan bergabung menjadi mitra pengemudi GrabBike. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di setiap hari Jumat, pria kelahiran 1976 ini <\/span><b>menggratiskan biaya perjalanan GrabBike bagi seluruh penumpang<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, tanpa pandang bulu. Hal ini diakuinya sebagai ibadah, yang pahalanya diperuntukkan bagi orang tuanya. \u201cSaya berjanji dan bersumpah kepada diri saya sendiri, mengenai hal ini. Saya berdoa agar niat baik dan ibadah saya ini dapat diberikan kepada orang tua, khususnya untuk ibu saya. Hal ini saya lakukan bukan untuk mengharapkan sesuatu, tetapi hanya ridho Tuhan Yang Maha Esa. Saya mendapatkan panggilan hati secara pribadi untuk membalas semua pengorbanan orang tua saya, terutama ibunda saya di Banyumas,\u201d lanjut Darno.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sang ibunda tinggal sebatang kara di kampung halamannya. Meskipun jauh, Darno berharap pahala baiknya dapat memberi kebahagiaan bagi sang ibu. Ia pun menjelaskan bahwa hal ini juga merupakan salah satu caranya untuk berbuat baik dan berkontribusi kepada sesama walaupun dalam jumlah kecil. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Niat baik Darno pun ternyata mendapatkan reaksi yang beragam dari para penumpangnya. Sebagian besar penumpang mempertanyakan alasan Darno. \u201cBapak aneh, tujuan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">nge-Grab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tapi malah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">gak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mau dibayar,\u201d ujar salah satu penumpang seperti yang dikisahkan Darno. Ia \u00a0hanya tersenyum dan menjawab, \u201cDibayarnya nanti saja di akhirat.\u201d Salah satu respon yang paling berkesan bagi Darno adalah saat ia mengantarkan seorang pegawai menuju kantornya. Ketika sampai di tempat tujuan, sang penumpang sempat kaget dan agak memaksa untuk membayar. Hingga akhirnya sang penumpang mencium tangan Darno dan menitikkan air mata karena tersentuh dengan jawaban Darno: \u201cSaya tidak akan rugi, Bu. Tuhan yang akan bayar dan bayarnya nanti saja di akhirat.\u201d Setelah itu, Darno pun mendapatkan pesan teks, \u201cTerima kasih banyak, Mas. Semoga panjang umur.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Darno bergabung sebagai mitra pengemudi GrabBike di Palangkaraya sejak bulan Juli 2018 lalu. Pria ini mengaku bahwa bergabung dengan Grab awalnya karena keisengan semata. Sejak mendengar cerita dari temannya yang telah lebih dulu menjadi mitra pengemudi Grab di Jakarta, niat Darno pun semakin mantap untuk bergabung menjadi mitra pengemudi Grab. Proses administrasi menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya yang masih kurang akrab dengan teknologi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setelah bergabung bersama Grab, Darno merasakan bahwa ia dapat lebih menikmati hidupnya yang dirasakan lebih teratur. Hingga akhirnya Darno pun memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai penjaga malam di toko bangunan karena ia merasa cukup dengan penghasilannya sebagai mitra pengemudi Grab dan tukang bangunan. Kini, Darno bekerja sebagai tukang bangunan sejak pagi hari dan mulai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ngojek <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">pada pukul lima sore. Selain itu, Darno mendapatkan banyak pengalaman baru dan senang bertemu pelanggan dengan watak yang beragam. \u201cSaya banyak belajar memahami karakter orang ketika <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">nge-Grab<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Ada yang ramah memberikan senyuman, baik hati, walau ada juga yang kurang menyenangkan. Bagi saya, semua ini menjadi pengalaman yang seru dan menyenangkan,\u201d ujar Darno.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Cerita Darno ini merupakan salah satu kisah inspiratif mitra pengemudi Grab. Darno saat ini tinggal bersama sang istri dan satu anaknya yang saat ini sedang kuliah. Pekerjaannya sebagai mitra pengemudi Grab memberikannya kesempatan untuk dengan leluasa dapat mengatur waktunya, dan juga untuk berbuat baik ke lingkungan sekitarnya. Darno sangat bersyukur pula karena penghasilannya meningkat sehingga akhirnya ia dapat mengunjungi sang ibunda selama satu minggu untuk melepas rindu. \u201cBerkat penghasilan dari Grab dan profesi saya sebagai tukang bangunan, saya dapat mengunjungi ibu saya di Banyumas kemarin selama seminggu. Alhamdulillah, ibu saya masih sehat,\u201d tutup Darno.<\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Darno (43), mitra pengemudi GrabBike asal Palangkaraya, menjadikan pekerjaannya sebagai wujud bakti kepada orang tua. Kisah perjalanan Darno hingga dapat tinggal di Palangkaraya bermula saat ia merantau dari Banyumas ke Sampit, Kalimantan Tengah pada Februari 2007, sebelum pindah ke Palangkaraya satu tahun kemudian. Darno dulunya memiliki dua pekerjaan sebagai tukang bangunan di pagi hari, \u00a0dan [&hellip;]","protected":false},"author":643,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[23,347],"tags":[],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62495"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/643"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62495"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62495\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":62498,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62495\/revisions\/62498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grab.com\/id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}